Template by:
Free Blog Templates

Selasa, 17 Maret 2009

Senyum Yang Runtuh

Ketika hari mulai larut dan matahari yang lelah meninggalkan kami, seketika segerombolan layang terbang mengitari khatulistiwa yang jenuh karena terselimuti kabut asap yang menyesakan. Warna merah yang berjelaga dilangit sana seakan ingin meneriakkan sesuatu tentang kesombongan dan keangkuhan tangan-tangan perusak alam. Aku yang kala itu berjalan dalam keceriaan gurau kedua zamrudku dan diselingi senyum peri kecilku meneteskan air mata karena tak sanggup untuk melihat keindahan tanah kelahiranku yang kucintai dimana air mata dan darahpun telah menetes dan menyatu disana, sesak nafasku namun aku hanya bisa bergumam dan menghujat didalm hati dasar manusia tak bertanggung jawab perusak alam kehidupan, penghancur pohon-pohon cita-cita dan pemusnah tanah-tanah harapan "mampuslah kau dan berkumpulah bersama para penghuni neraka".
Tuhan ampuni aku, entah kenapa kata-kata itu menyelimuti hatiku apakah karena aku tak bisa terima tanah kelahiranku dirusak. wahai kau anak manusia tidak inginkah engkau menyelamatkan dan menjaga alam ini?

0 komentar:

Posting Komentar